Kamis, 18 Juni 2009

Sehat dengan Pengobatan Herbal, Awas Jamu Kimia !

Bismillah...

Silakan simak artikel sbb :
1. Sehat dengan Pengobatan Herbal

PENGOBATAN herbal adalah penggunaan seluruh atau beberapa bagian tanaman untuk mengobati berbagai macam penyakit dan mempertahankan kesehatan. Penggunaan tanaman sebagai obat sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Walaupun sering dikategorikan sebagai pelengkap atau alternatif di negara barat, obat herbal tetap obat yang paling banyak digunakan di seluruh dunia.

Negara pengguna obat-obatan herbal tertua yang tercatat dalam sejarah, sekitar tahun 2800 sebelum masehi, yakni China. Mereka saat itu telah menggunakan 366 jenis tanaman sebagai obat. Selain di China, di beberapa belahan dunia lain juga sudah mengenal tanaman obat, seperti Yunani dan Eropa Barat. Bahkan, fisikawan Yunani Hippocrates meninggalkan daftar 400 tanaman obat yang ditelitinya.

Zaman dahulu, penggunaan tanaman obat selalu dikaitkan dengan mitos dan ilmu sihir. Namun, sekarang penggunaan tanaman obat sudah didukung ilmu modern. Banyak tanamanan obat yang dulunya hanya warisan turun temurun dari generasi ke generasi, sekarang menemukan cara penggunaan yang baru, setelah dirinci melalui analisis kimia dan uji klinis. Penelitian terus menerus dilakukan dengan tujuan meningkatkan manfaat dan keamanan tanaman obat.

Tanaman obat dapat digunakan di rumah untuk mengobati penyakit ringan dan menjaga kesehatan supaya tetap bugar. Jika anda ingin menggunakan tanaman sebagai obat, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

1. Pastikan bahwa anda sudah tepat mengidentifikasi tanaman yang akan anda gunakan sebagai obat. Jika ragu-ragu mintalah petunjuk.

2. Konsultasikan tanaman obat yang baik untuk memastikan anda tidak melebihi dosis yang dianjurkan

3. Jika anda mengambil tanaman obat langsung di alam bebas, pastikan tanaman tersebut banyak tumbuh di daerah tersebut. Jangan menggali sampai akar-akarnya, selain untuk menjaga kelestarian di beberapa negara tindakan ini melanggar hukum.

4. Jangan menunggu lama menemui dokter, jika sakit anda bertambah serius.

Tanaman yang biasa digunakan di rumah

Tanaman-tanaman berikut biasa digunakan di rumah. Beberapa dari tanaman ini juga dapat mudah ditanam di rumah, sebagian ada di alam dan tersedia di toko bahan kimia dan makanan kesehatan.

Stinging nettle
Tanaman ini hanya tumbuh di tanah yang baik dan kaya, karena itu tanaman ini sering ditemukan di tanah yang berkompos. Tanaman ini banyak mengandung nutrisi, termasuk zat besi dan vitamin C, oleh sebab itu sangat baik dikonsumsi para penderita anemia. Selain itu, tanaman ini juga bagus untuk mereka yang mengalami gangguan alergi, termasuk juga eksim pada anak-anak. Tanaman ini dapat diminum seperti teh, atau dimasak sebagai sayuran.

Marigold Marigold
Tanaman ini dapat digunakan sebagai antiseptik, antiradang dan pembersih. Daun tanaman ini banyak digunakan di banyak krim dan obat salep untuk menggurangi iritasi pada kulit dan gigitan serangga. Tambahkan rebusan air Marigold ke air mandi anda. Untuk menjaga kondisi saluran getah bening dan infeksi jamur, air rebusan tanaman ini bisa langsung diminum.

Cleavers, Clivers atau Goosegrass
Tanaman ini biasanya muncul pada awal musim semi. Ambil daun yang muda dan pucuknya untuk dimakan sebagai salad atau diminum seperti teh.Tanaman ini sering digunakan sebagai penambah tenaga saat musim semi, khususnya untuk kelenjar yang bengkak dan penderita gangguan limfa. Tanaman ini kaya akan vitamin C.

Dandelion
Dandelion digunakan paling baik saat ia masih muda. Dapat digunakan dalam salad atau teh. Daun dandelion sangat baik untuk merangsang fungsi ginjal, akarnya baik untuk hati. Akarnya yang dikeringkan dapat menjadi pengganti kopi yang nikmat dan sehat.

Tanaman Obat Mediterania
Rosemary, Thyme dan Sage adalah tanaman obat Mediterania yang banyak mengandung minyak aromatik. Minyak tersebut digunakan sebagai antiseptik, jadi baik digunakan sebagai pembersih luka, obat kumur saat tenggorokan serak dan infeksi pada gusi. Tanaman ini dapat diminum seperti teh dan dimasak sebagai sayur.

Ketiga tanaman ini punya kelebihan masing-masing. Rosemary sebagai perangsang, secara khusus untuk kepala. Cobalah saat anda mengalami sakit kepala, kegagalan ingatan, dan rambut rontok. Thyme, khusus untuk mengobati kondisi paru-paru, selain itu juga digunakan sebagai antijamur. Sage, menggurangi keringat, jadi cobalah saat anda mengalami keringat berlebihan ketika menopause atau untuk menggurangi susu saat seorang ibu sudah berhenti menyusui.

Yarrow
Yarrow mempunyai banyak kegunaan, seperti mengurangi masalah pada saat menstruasi, gangguan pada kelenjar darah, dan demam. Jika diminum, air rebusan Yarrow terasa sedikit pahit.Untuk mengobati influenza dan demam, Yarrow biasanya dicampur dengan Elderflower dan Peppermint. Satu ons campuran tanaman obat ini harus direbus dengan 0,56 liter air dan diminum selagi masih panas. Bunga elder Elderflower banyak menggandung vitamin C dan bagus untuk mengobati influenza, demam, sinusitis, asma, dan radang selaput lendir di hidung. Tanaman ini bisa langsung dikonsumsi tanpa dimasak atau dapat juga dikeringkan atau dibekukan untuk digunakan pada waktu lain.

Peppermint
Peppermint menggandung bahan yang mudah menguap, termasuk menthol yang dapat membersihkan saluran pernafasan dan menyejukkan pencernaan. Bunga lemon Tanaman ini memberi aroma lain pada teh yang dapat menenangkan pikiran dan menurunkan tekanan darah.

Bunga Chamomile
Tanaman ini dapat menjadi antiradang dan obat penenang, menggurangi iritasi pada lambung dan membantu mereka yang tidak bisa tidur.

Echinacea
Echinacea adalah nama latin dari bunga Purple Cone. Baik bagian akar, maupun bagian hijau tanaman ini dapat digunakan sebagai obat. Salah satu yang dianggap paling bermanfaat oleh herbalis modern yakni echinacea mempunyai kemampuan untuk merangsang sistem kekebalan tubuh. Jadi, tanaman ini digunakan untuk mengobati infeksi, demam, dan influenza. Tanaman ini juga sebagai pencegah infeksi bagi mereka yang mempunyai daya tahan tubuh yang lemah. Tanaman ini juga diharapkan bisa untuk mengobati infeksi HIV dan penyakit menular lainnya. Echinea tidak cocok untuk disedu, karena rasanya yang pahit. Lebih baik, mengkonsumsinya yang sudah dalam bentuk tablet dan kapsul.

Sumber: The Encyclopedia of Complementary Medicine, Kompas Online

2. 14 Kunci Efektifitas Pengobatan dengan Herbal

Kembali ke alam (back to nature) merupakan pilihan alternatif yang banyak diminati masyarakat saat ini, terutama dalam bidang pengobatan. Penggunaan tanaman berkhasiat obat atau lebih umum dikenal dengan herbal sebenarnya sudah lama digunakan oleh masyarakat. Hanya saja perkembangan kedokteran modern (barat) membuatnya hanya sebagai alternatif pilhan saja. Padahal sudah banyak bukti keampuhan dan khasiat herbal. Disamping lebih ekonomis, herbal juga mempunyai efek samping yang sangat kecil.

Walaupun demikian, masih banyak masyarakat kita yang meragukan khasiat herbal. Padahal ada beberapa faktor yang menyebabkan kenapa herbal tidak bekerja dengan efektif. Penyajian yang salah, waktu minum yang tidak tepat, dosis yang tidak tepat, dan ketidak sabaran pemakainya adalah faktor-faktor yang menyebabkan herbal tidak efektif. Prof. H.M. Hembing Wijayakusuma dalam bukunya “Ramuan Lengkap Herbal Taklukan Penyakit” menyebutkan hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengkonsumsi herbal, sbb:

  1. Cuci simplisia tumbuhan obat (herbal) dengan air mengalir sampai bersih.

  2. Segera gunakan herbal segar yang telah bersih untuk pengobatan. Jika bahannya besar atau tebal, sebaiknya potong-potong tipis agar saat perebusan zat-zat yang terkandung didalamnya mudah keluar dan meresap dalam air rebusan. Untuk herbal yang disimpan, keringkan lebih dahulu setelah dicuci agar tahan lama dan mencegah pembusukan oleh bakteri dan jamur. Bahan kering (simplisia) juga lebih mudah dihaluskan untuk dijadikan serbuk (bubuk). Pengeringan dapat langsung di bawah sinar matahari atau memakai pelindung. Dapat juga diangin-anginkan, tergantung dari ketebalan atau kandungan airnya.

  3. Seduh langsung bahan yang telah dijadikan bubuk (serbuk) dengan air panas atau mendidih.

  4. Untuk bahan yang keras dan sukar diekstrak, sebaiknya hancurkan dan rebus terlebih dahulu sekitar 10 menit sebelum memasukkan bahan lain.

  5. Gunakan air tawar bersih dan tidak mengandung zat kimia berbahaya untuk merebus. Pastikan jumlahhnya cukup sehingga seluruh bahan berkhasiat obat terendam sekitar 3cm.

  6. Untuk merebus bahan berkhasiat obat, gunakan wadah yang terbuat dari periuk tanah (keramik), panci enamel, atau panci beling. Jangan menggunakan wadah dari logam, seperti besi, aluminium, dan kuningan. Logam mengandung zat iron trichloride dan potassium ferrycianide. Zat tersebut menimbulakan endapan pada air dalam mengobati penyakit. Selama perbusan, jangan terlalu sering membuka tutup wadah agar kandungan minyak atsirinya tidak mudah hilang.

  7. Gunakan api sesuia dengan jenis herbal yang direbus.
    - Api kecil: Gunakan untuk merebus herbal yang berkhasiat sebagai tonikum, seperti ginseng dan jamur ling zhi agar kandungan aktifnya terserap kedalam air rebusan (rebus sekitar 2 jam). Api kecil dengan waktu perebusan yang lama juga digunakan untuk herbal yang mengandung toksin, seperti mahkota dewa agar kandungan toksinnya berkurang.
    - Api besar: Gunakan untuk merebus herbal atau simplisia yang berkhasiat diaforetik (mengeluarkan keringat) dan mengandung banyak minyak atsiri, seperti daun mint, cengkih dan kayu manis. Setelah mendidih, masukkan bahan dan rebus sebentar. Dengan cara ini, kandungan atsirinya tidak banyak hilang karena proses penguapan yang berlebihan.

  8. Jika tidak ada ketentuan lain, perebusan dianggap selesai saat air rebusan tersisa setengah dari jumlah air semula, misalnya 800 cc menjadi 400 cc. Jika bahan yanbg direbus kebanyakan berupa bahan keras, seperti biji atau batang maka air rebusan disisakan sepertiganya, misalnya 600 cc menjadi 200 cc.

  9. Jika mengandung bahan kering, umumnya dosis (takaran) setengah dari jumlah bahan segar. Misalnya, pemakaian daun sendok segar pemakaiannya 90 gram dan jika kering 15 gram.

  10. Pastikan dosis tumbuhan obat sesuai dengan yang dianjurkan. Umumnya, 1 resep tumbuhan obat dibagi untuk 2 kali minum sehari. Sisa ampas rebusan pertama dapat direbus sekali lagi untuk 1 kali minum pada sore atau malam hari.

  11. Minum rebusan sari tumbuhan obat dalam keadaan hangat dan setelahnya pakai baju tebal atau selimut. Namun, untuk jenis herbal tertentu, seperti rebusan biji pinang harus diminum dingin untuk menghindari kotraksi dengan lambung yang mengakibatkan mual, muntah, dan kram perut.

  12. Umumnya, rebusan herbal diminum sebelum makan agar mudah terserap. Namun, untuk ramuan obat yang dapat merangsang lambung, minum setelah makan. Minum ramuan obat yang berkhasiat sebagai penguat (tonikum) pada waktu pagi hari sewaktu perut kosong. Untuk ramuan yang berkhasiat sebagai penenang, misalnya untuk insomnia, minum menjelang tidur.

  13. Lakukan pengobatan secara teratur. Yang perlu diingat, pengobatan herbal membutuhkan kesabaran karena tidak langsung terasa manfaatnya, tetapi bersifat konstruktirf (memperbaiki/ membangun). Efek obat kimiawi memang terasa cepat, tetapi bersifat desktruktif. Karena sifatnya itu, herbal tidak dianjurkan sebagai pengobatan utama penyakit-penyakit infeksi yang bersifat akut (medadak), seperti demam berdarah, muntaber, dan lainnya yang harus segera mendapat pertolongan medis. Tanaman obat lebih diutamakan untuk pemeliharaan kesehatan dan pengobatan penyakit yang bersifat kronis (menahun).

  14. Pengobatan herbal dapat dikombinasikan dengan obat kimiawi, terutama untuk penyakit kronis yang susah disembuhkan, seperti kanker agar diperoleh hasil pengobatan yang lebih efektif. Aturan minum obat herbal sekitar 2 jam setelah pemakaian obat kimiawi(Sumber : Rumahdiabetes)


3. Awas Jamu Campur BKO (Bahan Kimia Obat) - Bocor Lambung karena Jamu

Jamu merupakan ramuan tradisional yang sangat umum ditemukan di Indonesia, yang digunakan baik sebagai tambahan/suplemen sehari-hari maupun sebagai "obat" untuk berbagai macam penyakit. Khusus bagi golongan masyarakat menengah-bawah, jamu masih kerap menjadi pilihan pertama untuk mengatasi gangguan kesehatan sehari-hari.


Tidak semua jamu-jamuan di Indonesia masuk ke dalam daftar Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM). Jamu gendong, misalnya, yang pembuatannya dilakukan langsung oleh si penjual jamu dengan ilmu yang turun-temurun. Akan tetapi, banyak pula jamu-jamuan yang masuk ke dalam daftar Badan POM dan Depkes serta memiliki nomor registrasi resmi.

Sayangnya, ada juga jamu-jamuan yang pada bungkus luarnya tertera nomor registrasi Badan POM dan Depkes, tetapi ternyata—setelah ditelusuri lebih lanjut—palsu. Padahal, masyarakat sulit untuk mengecek apakah nomor Badan POM tersebut asli atau karangan belaka. Inilah yang membahayakan sebab kita tidak pernah tahu apa saja bahan-bahan yang terkandung dalam jamu-jamuan tersebut.

Kompas edisi Kamis, 14 Desember 2006, menurunkan tulisan berjudul "Cara Bijak Pilih Obat Tradisional". Di dalamnya dibahas mengenai adanya 93 jenis jamu yang mengandung obat keras. Bahan-bahan obat keras tersebut di antaranya fenilbutason, metampiron, CTM, piroksikam, deksametason, allupurinol, sildenafil sitrat, sibutramin hidroklorida, dan parasetamol.

Hampir semua bahan tersebut dapat menyebabkan efek samping langsung terhadap lapisan sel pelindung pada lambung (mukosa lambung), yaitu peptic ulcer (borok pada dinding mukosa lambung). Peptic ulcer merupakan penyebab utama bocor lambung (± 70 persen) selain keganasan/kanker pada lambung (± 30 persen). Masyarakat pada umumnya mengetahui penyakit peptic ulcer sebagai penyakit mag. Pengobatan yang tidak adekuat akan mengakibatkan komplikasi lebih lanjut berupa perdarahan lambung, keganasan, dan akhirnya bocor lambung.

Penyebab tersering dari peptic ulcer adalah produksi asam lambung yang berlebih, obat-obatan, serta infeksi Helicobacter pylori, sejenis bakteri tahan asam yang memiliki sifat khusus dapat memproduksi enzim urease yang dapat mengubah derajat keasaman di dalam lambung menjadi suasana basa. Dengan demikian, bakteri itu dapat hidup dan berkembang biak di dalam mukosa lambung.

Produksi asam lambung berlebih dapat disebabkan oleh faktor stres dan rokok, sedangkan infeksi H.pylori dapat dieradikasi dengan obat-obatan tertentu sehingga pemeo saat ini berubah dari no acid, no ulcer (1910) menjadi no H.pylori, no ulcer (1989).

Obat-obatan yang paling sering menyebabkan peptic ulcer adalah golongan anti-inflamasi non-steroid (misalnya, paracetamol, fenilbutason, metampiron), serta golongan obat-obat steroid (misalnya, prednison, deksametason). Semua hal di atas menjadi penyebab utama terjadinya kebocoran lambung yang belakangan ini meningkat tajam insidensinya di rumah sakit-rumah sakit di Indonesia.

Bukan obat-obatan

Jamu-jamuan sebenarnya dimasukkan ke dalam golongan suplemen makanan, bukan obat-obatan, yang dibuat dari bahan-bahan alami berupa bagian dari tumbuhan, seperti akar-akaran, daun-daunan, dan kulit batang. Ada juga yang menggunakan bahan dari tubuh hewan, seperti empedu kambing atau tangkur buaya. Efeknya juga tidak akan langsung dirasakan oleh peminumnya. Karena sifatnya berupa suplemen, jika ada jamu yang efeknya "cespleng", justru harus dicurigai mengandung bahan obat-obatan kimia tertentu.

Dalam tahun ini, kejadian pasien dengan bocor lambung (perforasi gaster) meningkat drastis. Di RS Hasan Sadikin, Bandung, kasus pasien dengan bocor lambung pada tahun 2005 sejumlah 26 orang, tahun 2006 sejumlah 38 orang, dan 2007 dari Januari hingga Juli (6 bulan) saja terdapat peningkatan menjadi 53 pasien.

Insidensi ini tampaknya akan meningkat terus. Hal ini serupa dengan penelitian di RS Immanuel, Bandung, di mana kasusnya pada tahun 2006 tidak lebih dari 10 orang, tetapi dalam enam bulan terakhir (Januari-Juli 2007) kasusnya mencapai 40 orang dan cenderung bertambah. Mayoritas kasusnya adalah pria (77 persen), yang sesuai dengan insidensi populasi di seluruh dunia. Usia terbanyak berada di kisaran 50-70 tahun, dengan usia penderita termuda 22 tahun, dan tertua 80 tahun (rata-rata 60 tahun).

Hal yang menarik mengenai kasus-kasus bocor lambung di kedua rumah sakit pendidikan di Bandung tersebut adalah seluruh penderita adalah pengonsumsi jamu-jamuan kronis (menahun) akibat penyakit rematik, nyeri kepala, flu, dan sebagainya. Kebanyakan penderita membeli jamu-jamu tersebut dari warung-warung jamu dan bukan dari produsen yang terpercaya.

Hubungan langsung antara konsumsi jamu-jamuan "gelap" ini dengan peningkatan kasus bocor lambung yang sangat drastis memang belum jelas terbukti. Namun, dari hasil pemeriksaan patologi anatomi (pemeriksaan jaringan di sekitar dinding lambung yang bocor) menunjukkan tidak adanya kuman H.pylori yang merupakan penyebab paling banyak borok dinding mukosa lambung, maupun adanya keganasan/tumor pada mukosa lambung penderita.

Hal ini yang menimbulkan suatu hipotesis penyebab lainnya, yaitu konsumsi obat-obat yang dapat mengiritasi mukosa lambung. Salah satunya adalah jamu-jamuan, yang menurut Badan POM dicampur dengan obat-obat kimia keras.

Beberapa gejala

Penderita dengan perforasi gaster umumnya datang dengan keluhan nyeri perut mendadak dan sangat hebat dirasakan di perut bagian atas (ulu hati, mirip gejala penyakit mag), wajah pucat, keringat dingin, napas pendek-pendek, demam, dan muntah-muntah, khususnya pada jam-jam pertama setelah kebocoran terjadi.

Setelah beberapa jam, penderita biasanya tampak lebih baik; nyeri berkurang, muntah-muntah berhenti, suhu dan nadi normal, bahkan penderita bisa tidur. Namun, justru pada periode "intermediate" inilah waktu yang paling baik untuk dilakukan tindakan segera berupa operasi/pembedahan sehingga diagnosis penderita harus dilakukan dengan cepat dan benar.

Pada periode lanjut (lebih dari 12 jam setelah kebocoran lambung terjadi), pasien akan memburuk dengan cepat dan mulai masuk ke dalam keadaan peritonitis (peradangan hebat pada rongga perut) dan sepsis (infeksi hebat. Racun/toksin bakteri sudah menyebar ke seluruh tubuh) akibat kontaminasi rongga perut oleh asam lambung dan isi lambung lainnya, berupa sisa makanan dan enzim-enzim pencernaan.

Jika penderita baru ditangani pada periode lanjut ini, atau bahkan lebih lama, prognosis (kemungkinan yang terjadi pada penderita) pada pasien tersebut akan menjadi lebih buruk. Apalagi diperberat lagi dengan faktor usia penderita yang umumnya sudah lanjut, serta penyakit-penyakit usia lanjut lainnya.

Penanganan penderita yang sudah didiagnosis sebagai perforasi gaster adalah penanganan secara pembedahan karena kebocoran tersebut harus dicari dan ditutup oleh ahli bedah yang bersangkutan. Umumnya, jika penderita datang pada periode-periode awal penyakitnya, pasien dapat sembuh sempurna dalam waktu 7-10 hari.

Namun, penelitian di RS Immanuel pada enam bulan terakhir menunjukkan 57 persen saja penderita dengan perbaikan atau sembuh sempurna, 22 persen meninggal dunia, sisanya dibawa pulang paksa oleh keluarga atau hal lainnya. Pada kasus penderita yang meninggal dunia, 89 persen akibat menolak dioperasi atau keadaannya yang sudah sangat berat sehingga tidak mungkin lagi untuk dilakukan pembiusan. Hal ini menunjukkan bahwa level of patient awareness (tingkat kesadaran) masyarakat kita masih sangat rendah untuk kasus ini, apalagi jika dokter yang pertama menanganinya juga kurang aware terhadap penyakit ini.

Manajemen paling baik untuk penderita perforasi gaster adalah pencegahan. Sebab, jika kebocoran lambung sudah terjadi, penanganannya akan menghabiskan banyak biaya kesehatan yang harus ditanggung oleh pasien, keluarga, rumah sakit, dan ujungnya adalah negara kita.

Untuk itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang hubungan langsung konsumsi jamu-jamuan "gelap" dengan penyakit bocor lambung pada penderita.

(Sumber : Dr Roys A Pangayoman SpB, Kompas)

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar